Selamat Datang

Selamat Datang, Diharapkan bersedia untuk memberikan komentar dan saran. Terima Kasih

Selasa, 21 Februari 2012

Waduk Jatigede Kabupaten Sumedang Propinsi Jawa Barat, Proyek DAM terbesar se-asia dan proyek terlama di dunia ?





Waduk Jatigede adalah waduk yang dibuat pada suatu wilayah yang terletak sekitar 40 kilometer dari kota Sumedang Jawa Barat. Rencana pembangunan waduk ini diawali dengan menghimpun informasi dan menyusun rencana pengembangan Daerah Aliran Sungai (DAS) Cimanuk sekitar tahun 1963. Pada tahun itu juga, RJ Anderson, seorang geolog dari Amerika Serikat, mempublikasikan hasil penelitiannya.





Bagian Depan DAM






Bagian Belakang DAM


Dalam laporannya, Interim Report of Engineering Geological Studies of Dam Site on the Cimanuk River, Darmaraja Proyect West Java, ia mengungkapkan kondisi geologi di beberapa dam site yang direncanakan sepanjang Cimanuk. Tiga tahun kemudian menyusul laporannya bertajuk Recent Faulting of Proposed Dan Site in the Eretan Area, West Java, Indonesia. Sejak itu, tanda-tanda pembangunan Waduk Jatigede makin konkret. Dengan bantuan IDA, kemudian ditunjuk Netherlands Engineering Consultants (NEDECO)-Snowy Mountains Engineering Corporation (SMEC) sebagai konsultan (1972-1973) yang meneliti kemungkinan adanya potensi waduk sepanjang Cimanuk dan anak sungainya. Dari 17 lokasi yang distudi, ternyata dari enam lokasi yang memungkinkan dan layak untuk dibangun waduk, dan terpilih Jatigede. Bulan Juli 1978, pembuatan desainnya diselesaikan. Dengan luas genangan 4.900 hektar, waduk ini direncanakan menampung 1,28 miliar meter kubik air. Untuk itu, di daerah yang bernama Jatigede akan dibangun bendungan tipe rock fill setinggi 120 meter dan lebar 12 meter, dengan panjang badan bendungan 1.600 meter. Di atas kertas, pembangunan waduk tersebut membutuhkan waktu lebih kurang delapan tahun. Berdasarkan rencana yang sudah disusun, mulai pertengahan sampai akhir tahun 1981, pembangunannya diawali dengan kegiatan rencana teknis fasilitas dan prasarana. Kegiatan proyek tersebut kemudian dilanjutkan dengan perencanaan kembali saluran pengolah dan coffer dam yang dikerjakan sejak pertengahan tahun 1981 sampai pertengahan tahun 1982. Selama tahun 1982 dibuat rencana teknis dam dan spill way sehingga mulai pertengahan tahun itu pula pekerjaan proyek dilanjutkan dengan dimulainya pembebasan tanah milik masyarakat. Bersamaan dengan pelaksanaan pembebasan tanah, pada pertengahan tahun 1983, dimulai pembangunan konstruksi jalan masuk, fasilitas subproyek Jatigede, dan pembuatan saluran pengelak yang pembangunannya direncanakan selesai pada pertengahan tahun 1985. Mulai pertengahan tahun 1985, selama setahun direncanakan pembangunan coffer dam. Karena itu, sejak pertengahan tahun itu pula dimulai pembangunan dam utama yang dilakukan bersamaan dengan pembangunan pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Sehingga menjelang akhir tahun 1989 mulai dilakukan penggenangan waduk yang ditandai dengan penutupan saluran pengelak. Tetapi dalam praktiknya, sebagian besar rencana tersebut hanya menjadi arsip di atas kertas. Buktinya, setelah lebih dari dua dasawarsa, rencana tersebut tidak pernah menjadi kenyataan. 
Sampai dengan bulan oktober tahun 2011 sewaktu saya pergi kesana proyek ini belum juga selesai.
Dirangkum dari berbagai sumber.


Selengkapnya...

Rabu, 03 Agustus 2011

Makna Puasa Untuk Ibadah Yang Lainnya

Pada umumnya kita ketahui, bahwa agama Islam penuh dengan perumpamaan simbol dan lambang- lambang. Hal ini,kiranya diciptakan Allah Ta’ala untuk memudahkan dan membuat kita akrab dengan ajaran agama, dengan merasakan suasana yang sepenuhnya kita sadari dan alami. Misalnya, ada hadits, “Miftahul Jannah La Ilaha Illa Llah”, (Kunci surga itu adalah pengucapan (penghayatan,pengamalan) bahwa Tiada Tuhan melainkan Allah) atau intinya “Menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangannya”.
Dalam konteks puasa Ramadhan, yang sedang kita laksanakan pada saat ini. Puasa disebut Nabi Muhammad SAW sebagai pintu ibadah. Nabi bersabda “Li kulli Syaiin Babun, wa Babul Ibadah as Shaumu”,(Setiap segala sesuatu itu ada pintunya, dan pintu ibadah adalah puasa). (H.R. Ibn Al-Mubarak dalam Az-zuhud )
Mengingat dan menimbang penting manfaat ibadah puasa ini, maka seringkali diberlakukan sebagai ibadah “terapi” sebagai penangkal tumbuh liarnya nafsu, misalnya dalam hadits riwayat Imam Al Bukhari dari Ibn Mas’ud, dapat kita telaah dan artikan anjuran Nabi Muhammad SAW kepada para pemuda yang belum memiliki persiapan matang untuk menikah, dianjurkan untuk berpuasa, yang dalam bahasa beliau disebut sebagai Wija’ (alat kendali/control).






Apakah Benar Puasa Sebagai Pintu Ibadah ??? 

Pada umumnya kita ketahui, bahwa agama Islam penuh dengan perumpamaan simbol dan lambang- lambang. Hal ini,kiranya diciptakan Allah Ta’ala untuk memudahkan dan membuat kita akrab dengan ajaran agama, dengan merasakan suasana yang sepenuhnya kita sadari dan alami. Misalnya, ada hadits, “Miftahul Jannah La Ilaha Illa Llah”, (Kunci surga itu adalah pengucapan (penghayatan,pengamalan) bahwa Tiada Tuhan melainkan Allah) atau intinya “Menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangannya”.
Dalam konteks puasa Ramadhan, yang sedang kita laksanakan pada saat ini. Puasa disebut Nabi Muhammad SAW sebagai pintu ibadah. Nabi bersabda “Li kulli Syaiin Babun, wa Babul Ibadah as Shaumu”,(Setiap segala sesuatu itu ada pintunya, dan pintu ibadah adalah puasa). (H.R. Ibn Al-Mubarak dalam Az-zuhud )
Mengingat dan menimbang penting manfaat ibadah puasa ini, maka seringkali diberlakukan sebagai ibadah “terapi” sebagai penangkal tumbuh liarnya nafsu, misalnya dalam hadits riwayat Imam Al Bukhari dari Ibn Mas’ud, dapat kita telaah dan artikan anjuran Nabi Muhammad SAW kepada para pemuda yang belum memiliki persiapan matang untuk menikah, dianjurkan untuk berpuasa, yang dalam bahasa beliau disebut sebagai Wija’ (alat kendali/control).
Dalam telaah Sayyid Haidar Al Amuly misalnya, puasa itu “ Asrarus Syariah wa Athwarul Thariqah wa Anwarul Haqiqah”, puasa disebut sebagai pintu ibadah dikarenakan ia berfungsi terhadap dua hal. Pertama, puasa dapat mencegah sesuatu yang dilarang agama dan kedua puasa adalah bentuk penyerangan terhadap godaan syaithan. Penjelasannya seperti berikut.
Pertama, puasa berpotensi mencegah hal- hal yang dilarang, mencegah diri dari nafsu syahwat dan bahwa puasa itu adalah ibadah eksklusif, yakni ibadah rahasia yang hanya diketahui oleh Allah. Berbeda dengan shalat, zakat dan ibadah-ibadah lainnya yang masih mungkin dilihat sesama manusia, sehingga dikhawatirkan tersusupi perasaan bangga dan bertindak pamer dalam melakukan ibadah. Padahal bukankah telah kita ketahui bersama, bahwa “perasaan bangga dan pamer” keduanya adalah salah satu penyebab utama tertolaknya amalan suatu ibadah dan ketaatan ???.
Kedua, puasa adalah sebentuk “penyerangan” terhadap syaithan yang merupakan sebagai musuh Allah dan kita semua. Disebut menyerang syaithan karena ia “syaitan” tidak akan mampu menggoda manusia, kecuali dengan jalan pemenuhan nafsu syahwat. Maksudnya rasa lapar dan dahaga adalah upaya preventif atau pencegahan untuk menaklukkan segala nafsu syahwat yang tidak lain adalah alat atau media syaithan untuk menggoda manusia. Jika alat ini ditiadakan maka menjadi niscaya pula hilangnya aktivitas godaan itu. Karena itu pula mungkin kenapa, Nabi Muhammad bersabda : “ Sesungguhnya syaithan itu menyusuri putra Adam, sebagaimana aliran darah, maka sempitkan alirannya dengan lapar”. Dengan hadits ini, kita dapat memahami makna hakikat hadits Nabi yang diriwayatkan Abu Hurairah bahwa Nabi Saw pernah bersabda : 
“Apabila bulan Ramadhan tiba, pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup. Syaithan-syaithan dibelenggu. Maka berserulah seorang penyeru : “Hai siapa yang menginginkan kebaikan datanglah! Dan siapa ingin (melakukan) kejahatan, cegalah dirimu! (H.R. Turmidzi, Ibnu Majah dan Al-Hakim)
Dari komparasi atau gabungan dua hadits di atas, kiranya telah dipahami bahwa yang dimaksud syaithan dibelenggu, lebih mengarah atau mengena dengan diartikan bahwa peluang dan alat syaithan untuk menggoda manusia di bulan puasa Ramadhan benar-benar ditutup, dikendalikan dengan terapi lapar manusia yang berpuasa. Dengan ditutupnya peluang melakukan dosa dapat bermakna pula neraka siksaan telah pula ditutup dan yang tinggal kemudian adalah bekerjanya nurani manusia untuk kembali pada jalan Allah yang membawanya menuju surga keridhaan Allah Ta’ala.
Semuanya kemudian kembali lagi pada pribadi kita masing- masing untuk mengetuk dan mau membuka pintu ibadah ini. Kita sambut dan jemput dengan gempita peluang berharga yang dihadiahkan Allah SWT ini dimana dengan ibadah puasa ini, ibadah- ibadah atau penghambaan yang lain menjadi terbuka dan mudah untuk dimaknai dan dijalankan.


Dirangkum dari berbagai sumber



Selengkapnya...