Setiap tanggal 14 Februari, selalu ada tragedi. Pastinya membuat kita prihatin, sedih, dan juga kecewa campur marah. Mengapa harus prihatin dan sedih, padahal justru di tanggal 14 Februari itu banyak orang merayakan hari kasih sayang? Karena standar penilaian kita sebagai muslim seharusnya berbeda dengan cara pandang orang-orang selain Islam. Apa yang kita pandang baik, bisa salah dalam pandangan mereka. Apa yang mereka pandang baik, besar mungkin salah dalam pandangan kita sebagai muslim. Karena apa? Karena kita berbeda cara pandang sejak awal dalam menyikapi kehidupan ini. Itu letak masalah yang harus kita perhatikan.
Contohnya adalah Valentine’s Day. Banyak orang sigap dan gempita menyambut hajatan ini. Duit yang dikeluarkan demi pesta Valentine’s Day bukan lagi yang perlu dinilai rugi, tapi malah dianggap sebagai investasi. Alasannya: “Merayakan kasih sayang, tentu saja perlu pengorbanan. Uang sekadar alat tukar untuk membeli apa yang kita inginkan. Sama seperti ketika ortu kita mengeluarkan duit untuk biaya sekolah atau kuliah kita. Itu tandanya mereka sayang kepada kita, sehingga uang yang dimilikinya rela ditukar dengan biaya pendidikan kita, dan berharap kita kehidupannya jadi lebih baik.”
Benarkah alasan mereka? Belum tentu, bahkan bisa jadi keliru. Sebab, yang utama esensinya bukan pada “cinta dan pengorbanan untuk cinta”, tetapi letaknya pada: “apakah benar atau salah dalam mengekspresikan cinta dan pengorbanan itu.” Di sinilah perlunya memahami cara pandang Islam. Kita sebagai muslim, kadang nggak ngeh dengan cara Islam mengatur kehidupan. Inilah letak masalah kita. Semoga kita mau berpikir lebih mendalam, jernih dan ideologis.
Valentine’s Day bukan semata hari kasih sayang yang netral tanpa dinodai dengan kepentingan ideologi. Tidak. Hajatan Valentine’s Day memang disetting sedemikian rupa agar pesta yang berasal dari tradisi kaum pagan di jaman Romawi kuno ini diminati, dianggap sebagai bagian sakral dalam kesucian cinta, dijejalkan kepada benak kaum muslimin bahwa mereka harus merayakan Valentine’s Day atau minimal menerima sebagai sebuah realitas yang harus dihargai dalam kehidupan saat ini. Bahkan dalam tataran para pemilik modal, momen Valentine’s Day adalah saatnya jualan, saatnya dagang beragam pernik yang melekat erat identik dengan suasana pesta tersebut: coklat, boneka cupid, gaun pesta, dan sejenisnya. Begitulah ketika cinta dianggap netral, lalu disalah tafsirkan dan bahkan dikapitalisasi.
Bro en Sis ‘penggila’ gaulislam, di awal tulisan ini, saya juga menuliskan bahwa kita seharusnya kecewa dan marah. Lho, kenapa harus kecewa dan marah justru di saat orang gembira menebarkan aroma kasih dan sayang? Jiahahah.. itu cuma kedok sesuai kepentingan pemilik opini yang sengaja menyesatkan jalan pikir manusia. Kita sebagai muslim memang harusnya kecewa dan marah. Kecewa campur marah karena banyak remaja muslim atau para orang tua dari keluarga muslim ikut nyebur dan berbasah kuyup dalam kubangan nista bernama Valentine’s Day. Apakah belum mengerti juga bahwa pesta itu bukan berasal dari ajaran Islam? Atau, jika sudah tahu, kenapa tak mau tahu dengan terus memaksakan diri menghamba kepada arus utama penyesatan opini ini? Well, semoga bukan karena sombong dan hendak menantang kebenaran Islam.
Ketika taklid buta merajalela
Wadduuuh, nih bahasane serius bener. Hehehe.. sekali-kali bolehlah kita serius, Bro. Oya, mungkin sebagian dari kamu nggak ngeh istilah taklid buta. Kalo kudu dijelasin sih, taklid itu artinya mengikuti. Nah, kalo digabung dengan kata “buta”, maka jadinya taklid buta alias ngikutin tanpa tahu alasannya. Intinya, ngikut forever dah, sing penting gaul alasan klisenya. Piye iki rek? (sori pake bahasa planet Majapahit nih. Hehehe..)
Nah, lebih gawat bin bahaya kalo taklid buta sudah merajalela di semua aspek kehidupan dan melanda semua lapisan masyarakat. Contohnya ya, Valentine’s Day itu. Jelas-jelas bukan berasal dari Islam, tapi malah banyak kaum muslimin, khususnya remaja yang ngikut aja tanpa tahu masalahnya. Nggak ngecek bener apa salahnya, nggak ngerasa harus meragukan sama sekali. Sebaliknya malah berprinsip: “Hajar aja bleh! Yang penting gaul, bisa menyalurkan rasa cinta rame-rame, apalagi difasilitasi dan diberikan tempat layak dengan opini yang gemerlap. Apa itu salah?” Hadeuuuh.. ciloko tenan rek, kalo cara berpikir kamu kayak gini! (backsound: bisa-bisa diketawain orang gila! Amit-amit! )
Boyz and galz, kebodohan di masa lalu seharunya menjadi pelajaran supaya jangan diulang di masa sekarang. Eh, nyatanya kita masih tetap aja menyanjung nilai-nilai nenek moyang jaman baheula yang belum tentu benar semua, apalagi yang sudah jelas salah.
Kalo tidak tahu gimana? Ya, jangan nekat ngelakuin. Harus cari tahu dulu sebelum berbuat. Menurut Umar bin Khaththab ra: al-ilmu qobla al-‘amal (ilmu dahulu, sebelum beramal). Betul. Jadi, harus tahu tentang sesuatu sebelum sesuatu itu dikerjakan atau diikuti. Allah Swt. berfirman (yang artinya): “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS al-Israa’ [17]: 36)
Sobat gaulislam, taklid buta makin lestari ketika masyarakat secara massal ogah belajar. Sepertinya mereka senang berada dalam zona nyaman kebodohannya tanpa mau menerima kebenaran yang ada di sekitarnya. Buktinya, banyak orang “Say No to Valentine’s Day”, eh, mereka enak-enakan bikin acara “Happy Valentine’s Day”. Itu kan namanya kalo bukan bodoh ya nggak mau tahu alias saudara kembarnya sombong.
Logika berpikir sederhana kan gini: “Kok ada sih orang yang menentang Valentine’s Day? Kenapa ya?” Nah, itu langkah awal untuk cari kebenaran. Bukan malah berpikir: “Ah, itu kan pendapatnya dia. Pendapat saya kan ini.” Waduh, itu sih secara tidak langsung nggak mau nyari kebenaran, tapi mengedepankan pembenaran (apalagi sesuai hawa nafsunya semata).
Sebaliknya, orang cerdas dia juga akan bertanya: “Mengapa ya ada orang yang bela-belain bikin acara Valentine’s Day, padahal itu kan bukan dari ajaran Islam?” Lalu dia tidak berhenti dengan pertanyaan itu. Cari jawabannya dan bandingkan dengan standar yang pasti,yakni kebenaran ajaran Islam. Insya Allah ada jawabannya kalo nyarinya di tempat yang benar. Jangan di tempat yang salah ya.
Sayangnya, tradisi berpikir “skeptis” untuk mencari jawaban yang benar demi mendapatkan keyakinan yang utuh dan ajeg seringkali diabaikan. Banyaknya sih manut saja kepada pembuat opini. Padahal, tujuan memproduksi informasi itu juga tak lepas dari cara pandang. Makanya, info dan opini dari pemilik media satu dengan media lainnya bisa berbeda. Itu karena perbedaan kepentingan, Bro en Sis. Waspadalah! Tetap berpegang-teguhlah kepada ajaran Islam.
Lalu bagaimana dalam kondisi seperti ini? Percayalah kepada Allah Swt. dan RasulNya dengan menjadikan Islam sebagai ideologi kita. Islam yang akan mengatur segala aspek kehidupan kita, dari mulai bangun tidur hingga tidur lagi. Jadikan Islam sebagai jalan hidup kita. Bagaimana agar tahu aturan dan batasan dalam Islam? Ya, belajar deh jawabannya. Belajar secara intensif dan rutin. Untuk urusan belajar ini, kru gaulislam insya Allah bisa bantu deh. So, kontak aja via email atau SMS ya.
Cinta tidak netral
Kecintaan orang kafir dengan cintanya seorang muslim jelas berbeda. Karena memiliki pandangan tentang kehidupan yang berbeda. Maka, tujuan dan cara menempuhnya juga berbeda. Bahkan bisa jadi bertentangan dan menentang satu sama lain. Itu artinya, cinta tidak netral (yang netral cuma band, lho kok jadi ke sini?).
Maka, 14 Februari, bagi kaum muslimin yang sadar dan beriman, adalah tragedi salahnya ekspresi cinta. Gara-gara salah ekspresikan cinta, maka akan merusak nilai dan kesucian cinta itu sendiri. Ujungnya, akan menghilangkan kehormatan manusia dan menjerumuskannya ke dalam kubangan nista hawa nafsu yang mendompleng keindahan cinta.
Bro en Sis, dengan demikian. Sudahlah, tak perlu maksain ikut-ikutan Valentine’s Day, cukup tragedi 14 Februari berhenti di tahun lalu aja. Jangan diulang di tahun ini. Sebagai muslim, yang layak dijadikan sandaran hanyalah ajaran Islam. Ideologi Islam. Bukan ajaran lain atau ideologi lain. Sebab, cara pandang yang disusupi sebuah ideologi akan bertentangan dan bahkan menentang ideologi lain. Kita, kaum muslimin seharusnya menyandarkan alasan hanya kepada ideologi Islam. Bukan kepada ideologi lain. Jika ada kaum muslimin yang masih merengkuh nikmat semu dalam selingkuh dengan ideologi lain, itu artinya sedang menempuh jalan sesat dan perlu disadarkan sesegera mungkin.
Oya, buat kamu yang penasaran dengan asal-usul Valentine’s Day yang memang bukan berasal dari ajaran Islam, kita udah bahas di banyak artikel. Silakan kunjungi website kami, www.gaulislam.com. Cari dan dapatkan sepuasnya. Gratis.
Yuk ah, berbenah diri, jadikan Islam sebagai cara dan jalan hidup kita. Belajar dengan rajin dan tetap semangat berdakwah.
Akhirul keyboard: jaga diri, jaga keluarga, bebaskan mereka dari budaya kufur macam Valentine’s Day ini. Semangat!
Sumber : gaulislam, kompasiana
Selengkapnya...
Selamat Datang
Senin, 14 Februari 2011
Valentine’s Day, Tragedi 14 Februari
Kamis, 10 Februari 2011
Jatuh Hati
Sekali waktu Lukman disuruh emak beli daging yang bagus, dia beli hati dan lidah. Begitu juga ketika disuruh beli yang paling busuk, dia beli hati dan lidah. Sebab apa begitu? Sebab menurut Lukman, hati merupakan sumber amal perbuatan yang baik dan lidah dapat menjalin persaudaraan. Tetapi hati juga sumber kedengkian, congkak dan suka berbangga sedang lidah adalah alat rumpi dan lebih melukai dari belati, banyak keseleonya. Kawan, berhubung ruangan sedikit, pada kesempatan ini kita obrolin soal hati saja, lidahnya nanti. Lebih enak bicara hati ke hati. Siapa tahu Anda bisa jatuh hati. Upss!
Pepatah lama; “Hati boleh panas, kepala harus tetap dingin” sudah kadaluarsa. Gak mecing kalau raja (perlambangan hati) panas panglima (perlambangan akal) adem ayem. Gak kompak. Kita ganti pantunnya menjadi “Hati hangat, kepala gak perlu obat”. Soalnya dimana hati sehat hidup pasti afiat. Kalau hati banyak karat kebenaran sulit terlihat.
Ada lagi ungkapan “Ada uang ada hati”. Ini menarik dan berhubungan dengan kebiasaan budaya yang diam-diam kita dukung, karena ada gejala dimasyarakat kita bahwa hanya yang kaya yang dihormati. Jika punya uang Anda dihormati sekalipun tidak punya hati. Artinya orang-orang akan tetap menganggap Anda seolah-olah orang yang punya hati karena adanya uang, walaupun sebenarnya tidak. Orang-orang berhimpun disekeliling, mendekat, memberi hormat dan berkhidmat. Ada banyak forum dan agenda acara menunggu agar Anda bebas bicara apa saja disitu, pembicaraan yang biasanya tidak mengatasi kemelaratan rakyat. Kata prof A Hadi, kalau seorang hidup miskin sekalipun tinggal di tengah pasar, tak seorangpun akan mengunjunginya. Akan tetapi sekalipun seorang tinggal di gunung yang terpencil tetapi kaya raya, orang akan mengunjunginya. Contoh ini cocok menggambarkan situasi kita setidaknya saat ini. Mudah-mudahan besok bisa berubah.
“Ada uang ada hati” memang konsep budaya juga kalau begitu bukan? Walaupun begitu saya ingin mengatakan tentang banyaknya orang yang saya kenal berlimpah harta sekaligus juga kekayaan hati seperti Sulaiman. Tidak perlulah kita sebutkan nama-namanya. Apalah arti sebuah nama, meski seringkali nama-nama sangat bermakna. Disini kita tidak mau bertengkar memperebutkan nama-nama dan makna-makna, apalagi benda-benda. Orang kaya yang baik hatinya itu juga nyata.
Hati-hati, amati hati. Hati menunjuk kepada keseluruhan diri. Ketika seorang jatuh hati, maka berarti jatuh keseluruhan dirinya. Anda jatuh hati pada apa atau pada siapa? Saya jatuh hati saat menyaksikan pertunjukkan teater misalnya. Yang jatuh adalah keseluruhan diri saya; mata, telinga, perasaan, imajinasi dan akal pikiran bahkan darah ikut bergolak, ardenalin memuncak. Keseluruhannya benar-benar jatuh. Bekas pengucapan di karya itu menitipkan artikulasi di hati ini. Nah jatuh yang seperti ini adalah jatuh di jalan, bukan jatuh di luar jalan. Karena karya seni kreatif adalah salah satu penunjuk jalan. Terlebih lagi jatuh tersungkur dan bersimpuh di kaki Sang Nabi dan berusaha menggapai sandal jepitnya. Atau jatuh pada Penguasa waktu, Raja di raja, Dewa segala dewa yang disebut oleh orang bijak dengan berbagai Nama itu. Jatuh dalam kepasrahan, ketundukkan dan pengharapan. Abu Said, saat diberitahu ada orang jatuh di jalan, ia berkata,”Syukurlah, ia tidak jatuh di luar jalan” Begitulah maksud kata-kata ini.
Baiklah dijelaskan lagi dengan penafsiran sendiri bahwa ini berbeda dengan jatuhnya kebanyakan kita. Jatuh kebanyakan orang adalah jatuh “di jalanan”, “di tengah jalan” atau “di pinggiran jalan”. Maknanya tentu berbeda. Jatuh di tengah jalan adalah kalah sebelum berperang, jatuh di pinggir jalan adalah orang yang diposisikan sebagai pelengkap penderita (termarjinalisasi), penonton dan bukan pelaku serta untuk selamanya akan periferal. Jatuh di jalanan menandakan orang itu luntang lantung tanpa tujuan, jalanan itu sendiri adalah kehidupannya. Akan berbeda artinya kata “Anak jalan” dengan “Anak jalanan”. Ali Topan adalah anak jalanan (dan istilah sekarang anak jalanan identik dengan tukang ngamen atau anak-anak yang bekerja sebelum waktunya, miskin dan tidak berpendidikan. Atau anak-anak yang digusur dan terpaksa hidup di jalanan), secara eksplisit mereka adalah korban dari sistem yang kita bangun. Kita menganut sistem agar sebagian besar rumah tangga orang broken home seperti ali topan korbannya, dan kita juga membangun sistem agar sebagian besar orang hidup dalam kemelaratan sebagaimana kenyataan anak-anak jalanan dan gelandangan. Tidak ada pemerataan sosial ekonomi, kesempatan kerja, pendidikan dst di negara merdeka ini. Tetapi “anak jalan” berbeda, anak ini tidak tersentuh oleh atribut kemiskinan atau kekayaan seperti ini. Tidak bergantung pada pendidikan dan pendapat. Dia mengatur sistem, cerdas secara spiritual. Para wali adalah anak jalan dan bahkan menjadi jalan itu sendiri. Jelas kan, Jalan berbeda dengan jalanan. Ada penyair penempuh jalan, tetapi ada juga penyair di jalanan. Walaupun yang dijalanan bisa juga sekaligus penempuh jalan. Kalau Ada sebutan perempuan, Anda memilih disebut perempuan dalam jalan atau perempuan jalanan kira-kira?
Menyoal jatuh hati, pahami jatuh hati. Kawan, hati yang kita bicarakan ini merupakan suatu keberadaan yang halus, bersifat rohani dan rabbani yang dikaitkan dengan pujian dan celaan. Maka ini sebetulnya wujud realitas dalam dan inti kesadaran kita. Jadi jangan serahkan hati dengan timbangan celanya. Jatuh hati mestinya hanya kepada hal yang didamba oleh bagian sebelah dalam diri kita yang patut dipuji dan suci; sunyi, indah, penuh rahasia dan memeiliki keseluruhan cerita. Tidak mengenal rasa sakit atau kematian. Tidak peduli diliputi kekayaan atau dirundung kemiskinan. Dalam kemiskinan dihias kesabaran, dalam keadaan kaya tidak pernah lalai. Jika ada sengsara dalam pengembaraannya, ini sengsara yang membawa nikmat. Semua episode adalah melulu kerinduan, berjuta indahnya, biar siang biar malam terbayang wajah-Nya.
Tahukah Anda bahwa Kekasih telah mengirimkan surat cinta-Nya untuk menyegarkan hati kita dengan cara mengungkapkan rahasi-rahasia-Nya lewat surat cinta itu? Buku suci itu lho, yang biasa Anda baca usai maghrib menjelang isya, itulah surat cinta Ilahi; Al Qur’an namanya. Ingin tahu pesan Kekasih, bacalah surat-Nya, lahir dan batinnya, dan temukan disana suatu tempat dimana engkau akan “naik”. Karena tidak ada ayat Al Qur’an yang tidak memiliki makna lahiriah, makna batiniah, batasan, dan tempat kemana kita akan naik. Dari kalimat itu kita tahu bahwa makna lahiriah itu tafsir, makna batiniahnya adalah ta’wil, batasannya adalah makna dari firman yang ada di luar pemahaman dan tempat yang boleh dicapai adalah tempat dimana orang dapat menjangkau makna itu, untuk menyaksikan Raja yang Maha tahu.
Memang , menurut tradisi kearifan menggauli surat cinta Kekasih ini ada adabnya. Konon dikatakan bahwa surat cinta ini seperti mempelai wanita yang mengenakan selubung. Jangan Anda paksa untuk menarik selubung itu. Kalau engkau menarik selubung itu dari wajahnya, dia tidak akan menunjukkan dirinya kepadamu. Ketika Anda mengkaji Al Qur’an, tetapi tidak merasakan kesenangan atau pengungkapan, itu adalah karena tindakan Anda menarik selubung telah menyebabkan diri Anda ditolak. Al Qur’an telah menipu Anda dan menunjukkan dirinya sebagai si buruk rupa. Ia berkata:”Aku bukanlah mempelai yang cantik itu”. Ia dapat menunjukkan dirinya dalam bentuk apapun yang diinginkannya. Tetapi jika Anda berhenti menarik selubungnya, melayaninya dari jauh dengan sepenuh hati, dan mengusahakan sesuatu yang disukainya, maka ia akan menunjukkan wajahnya kepada Anda tanpa Anda perlu menyingkap selubungnya. Bukankah begitu?
Itu baru bagaimana memperlakukan surat cinta-Nya, bagaimana pula strategi meraih cinta-Nya? Dalam keadaan Jatuh hati biasanya orang akan memperhalus, memperlunak dan memperlembut semua perilaku dan kata-katanya. Banyak orang menciptakan puisi-puisi cinta. Tetapi itu hanya membuktikan ada memiliki perhatian, bukan cinta. Karena itu pembuktian bahwa Anda sedang jatuh hati hanya dengan lima tata krama. Kata orang alim seandainya Anda mendawamkan lima tata krama ini, niscaya Anda mendapat kebaikan, kemenangan dan meraih apa yang membuat Anda jatuh hati. Apa tata krama itu? Pertama, mengosongkan perut. Kedua, mentadaburi Al Qur’an. Ketiga, merebahkan diri sambil menangis diwaktu sahur. Keempat, shalat malam. Dan kelima, bergaul bersama orang-orang baik dan berpengetahuan.
Hati suci merupakan hati yang berketetapan pada pencapaian kesadaran akan Tuhan, lebih luas dari alam semesta. Karena Tuhan berkata: “Bumi-Ku dan langit-Ku tidak dapat memuat-Ku. Hati seorang Mukminlah yang dapat” Bagaimana dengan hati Anda? Rumah boleh sempit, asal hati tetap luas.
Sumber : Kompasiana
Selengkapnya...
Selasa, 23 November 2010
Sekolah Partikelir Gugat UU Sisdiknas
Kewajiban pemerintah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, terutama lewat pendidikan dasar sembilan tahun bagi semua anak bangsa yang masuk dalam usia wajib belajar, dinilai diskriminatif.
Pasalnya, pemerintah tidak memberikan perlakuan yang setara dalam membiayai pelaksanaan pendidikan dasar di sekolah negeri dan partikelir atau swasta.
Padahal, sekitar 80-90 persen sekolah swasta membutuhkan dukungan dari pemerintah untuk memberikan layanan pendidikan dasar yang berkualitas bagi anak-anak bangsa yang bersekolah di perguruan swasta.
Namun, pemerintah dan pemerintah daerah tidak memberikan kontribusi yang memadai dan tidak memberikan kepastian adanya bantuan teknis, subsidi dana, dan sumber daya lain secara adil dan merata seperti yang didapat sekolah-sekolah negeri.
E Baskoro Poedjinoegroho dari Tim Advokasi Keadilan Pelayanan Pendidikan Dasar untuk Anak Bangsa di Jakarta, Senin (22/11/2010), menyatakan, sikap pemerintah dan pemerintah daerah yang tidak merasa wajib memerhatikan sekolah swasta itu karena mengacu pada Pasal 55 Ayat 4 dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Di ayat itu disebutkan, lembaga pendidikan berbasis masyarakat dapat memperoleh bantuan teknis, subsidi dana, dan sumber daya lain secara adil dan merata dari pemerintah dan/atau pemerintah daerah.
Kata dapat pada pasal tersebut, ujar Baskoro, bermakna jamak, yakni bisa memperoleh bantuan atau bisa tidak memperoleh bantuan. Padahal, dalam Pasal 31 UUD 1945 Pasal 2 disebutkan tentang kewajiban pemerintah dan pemerintah daerah untuk membiayai pendidikan dasar, termasuk yang diselenggarakan oleh masyarakat.
Sekolah-sekolah swasta pun berjuang menghapuskan diskriminasi pemerintah, terutama di jenjang pendidikan dasar.
Perwakilan masyarakat dari perguruan swasta yang diwakili Machmudi Masjkur (Perguruan Salafiyah Pekalongan) dan Suster Maria Bernardine (Perguruan Santa Maria) menyampaikan permohonan kepada Mahkamah Konstitusi untuk uji materi UU Sisdiknas Pasal 55 Ayat (4), terutama karena pencantuman kata dapat.
Sumber : Kompas.com
Selengkapnya...
Sekolah Swasta Diabaikan, Sampai Kapan?
Dalam perjalanan sejarah bangsa ini, sekolah swasta justru punya andil luar biasa mencerdaskan kehidupan bangsa. Perguruan swasta atau sekolah-sekolah yang didirikan masyarakat justru menjadi perintis lahirnya sekolah di negeri ini.
"Pemerintah tidak bisa begitu saja melupakan peran sekolah swasta di negeri ini. Ketika banyak sekolah swasta yang butuh dukungan, pemerintah harus turun tangan. Tetapi ini tidak terjadi," kata Darmaningtyas, pengurus Majelis Luhur Perguruan Tamansiswa, di Jakarta, Senin (22/11/2010).
Pemerintah, ujar Darmaningtyas, tidak boleh menutup pada pada sekolah-sekolah swasta kecil atau gurem yang melayani anak-anak dari keluarga tidak mampu. "Kalau pemerintah tidak sungguh-sungguh membantu sekolah swasta kecil atau pinggiran, berarti pemerintah telah sangat diskriminatif pada anak-anak bangsa lainnya yang juga berhak menyelesaikan pendidikan dasar berkualitas," kata Darmaningtyas.
Menurut Darmaningtyas, yang juga bergabung dalam Tim Advokasi Keadilan Pelayanan Pendidikan Dasar Untuk Anak Bangsa, peran sekolah-sekolah swasta kini diabaikan dan tidak ada keberpihakan pada sekolah swasta yang kontribusinya luar biasa bagi negeri ini.
Darmaningtyas mengatakan, kucuran dana bantuan operasional sekolah (BOS) untuk SD dan SMP swasta tergantung political will dari pemerintah daerah. Untuk memperoleh BOS tidak mudah, bahkan dana yang diberikan tidak sesuai dengan jumlah siswa di sekolah swasta.
"Padahal, sekolah itu butuh karena memang kemampuan terbatas. Apalagi sekolah swasta yang melayani anak-anak dari keluarga tidak mampu," kata Darmaningtyas.
Kesempatan untuk pengembangan diri para guru juga lebih dititikberatkan pada guru-guru pegawai negeri sipil (PNS). Demikian juga dengan jatah sertifikasi guru, pemerintah memberikan porsi yang kecil bagi guru swasta dibandingkan guru PNS.
Sumber : Kompas.com
Selengkapnya...
Minggu, 21 November 2010
Pemimpin Berkarakter dan Bermartabat
Berdasarkan buku “Berpikir dan Menjadi Kaya”yang ditulis oleh Napoleon Hill disebutkan beberapa faktor kepemimpinan yang baik :
1. Keberanian yang tak tergoyahkan
2. Pengendalian pribadi
3. Rasa keadilan yang tajam
4. Keputusan yang pasti
5. Rencana yang pasti
6. Kebiasaan melakukan lebih banyak daripada yang dibayar
7. Kepribadian yang menyenangkan
8. Simpati dan pengertian
9. Kemauan memikul tanggung jawab penuh
10.Kerjasama
Semua hal itu tentunya harus diimbangi dengan tingkat SQ yang baik. SQ yang baik akan membuat seorang pemimpin bertindak berdasarkan keridhoan pada Sang Pencipta. Tindakan yang bukan hanya bertumpu pada keduniawian semata. Tindakan yang didasarkan rasa taqwa, rasa berserah diri dan yakin pada Lillahi Ta’Ala.